QUALITY AND RELIABILITY CORNER Six Sigma: myths and realities in Indonesian

QUALITY AND RELIABILITY CORNER
Six Sigma: myths and realities
Nihar Ranjan Senapati
Avici Systems, Inc., North Billerica, Massachusetts, USA


Abstract The Six Sigma approach has set a new paradigm of excellence in any manufacturing
ambience. But do the ground realities speak in favor of spending millions of $ budget, when any
exotic process centric concept even like Shainin’s can also map out process improvement in the
similar objective manner? The Define, Measure Analyze Improvement and Control (DMAICR)
approach is discussed vis-a´-vis Deming’s cycle, total quality management assessment
methodologies including Malcolm Baldrige National Quality Award Assessment (MBNQA) or
European Foundation for Quality (EFQM) framework and of late, much popularized Dorian
Shainin’s Statistical Engineering (SE). The 3.4 PPM, so-called quantitative aspect of Six Sigma, is
challenged statistically over process variability. The conclusion leads to acknowledge Six Sigma as
any other process improvement and enrichment systematic methodology like any other
aforementioned improvement initiatives.

Full articles can be downloaded and buy from : http://www.emeraldinsight.com/Insight/viewContentItem.do?contentType=Article&hdAction=lnkpdf&contentId=840676

Below is the summary in Indonesian language for the article
I. Pendahuluan
Saat ini banyak perusahaan yang berpedoman pada Six Sigma dalam meningkatkan kualitas dari produknya, perusahaan besar yang merupakan pemimpin dalam industrinya masing-masing seperti Motorola dan General Electric telah menunjukkan cara melakukannya dengan program kerja mereka yang mengadaptasi Six Sigma.
Sehingga Six Sigma telah menjadi suatu standar framework dari metodologi untuk melakukan pengembangan kualitas. Metode DMAICR telah berulang kali direvisi oleh para praktisi, dan terbukti memberikan keuntungan yang setimpal dalam bentuk dividen dengan menggunakan pendekatan ini, namun Six Sigma bukan satu-satunya metode dalam peningkatan kualitas dan control kualitas.
II. Tujuan Dan Manfaat
1. Mengetahui manfaat dari penggunaan Six Sigma
Dalam kondisi ekonomi resesi dan melambatnya permintaan yang terjadi, hampir semua perusahaan mencari jalan untuk memangkas biaya dan menggunakan dana yang ada saat ini dengan bijak. Sehingga muncul pertanyaan apakah bermanfaat menggunakan Six Sigma dengan tujuan untuk menggunakannya sejak awal ketimbang setengah hati melakukannya?
2. Mempelajari kemungkinan untuk menggunakan metode selain Six Sigma
Tidak semua orang mungkin merasa membutuhkan Six Sigma dan mungkin cenderung memilih metode lama seperti Deming’s cycle (1982), methodology Total Quality Management (TQM) meliputi Malcom Baldrige National Quality Award Assessment (MBNQA) atau European Foundation for Quality (EFQM) framework, dan Dorian Shainin’s Statistical Engineering (SE).




3. Mempelajari secara garis besar metode proses pengembangan kualitas masing-masing metode.

III. Variabel Yang Dibahas
1. Metodologi tiap proses pengembangan
2. Perbandingan atribut dari tiap proses
IV. Pembahasan
Garis besar dari masing-masing metode
a. Six Sigma dan langkah-langkah proses DMAICR
Secara garis besar Six Sigma adalah sebagai berikut :
(1). Define (D) : Dimulai dari seleksi dari proyek yang tepat, perencanaan dan identifikasi dari proses yang relevan untuk digunakan dalam project tersebut. The Supplier-Input-Process-Output-Customer (SIPOC) mapping exercise adalah salah satu alat yang dapat digunakan secara efektif untuk menggambarkan proses-proses yang dibutuhkan.
(2). Measure (M) : Pengukuran pada variabel proses melalui pengecekan kualitas data, study repeatability (dapat diulangi) dan reproducibility (dapat diduplikasi) (R&R), dan pengkodean stabilitas proyek.
(3). Analyze (A) : Penggunaan grafik untuk analisa perilaku tiap proses.
(4). Improve (I) : Mengembangkan proses yang sudah ada dengan eksperimen dan teknik simulasi.
(5). Control (C) : Pengembangan dari perencanaan control untuk peningkatan kualitas proses.
(6). Reporting (R) : Melaporkan keuntungan dari penggunaan proses-proses yang telah disusun.
b. Deming cycle dan langkah proses
Langkah-langkah Deming cycle secara garis besar adalah sebagai berikut :
(1). Plan : Merencanakan proses. (Setara dengan D dari Six Sigma)
(2). Do : Mengeksekusikan proses yang telah direncanakan. (Setara dengan M-A-I dari Six Sigma)
(3). Check : Mengukur hasil dari proses yang telah dilaksanakan dengan melihat kekurangan dari proses yang telah ada. (Setara dengan C dari Six Sigma)
(4). Act : Bertindak untuk menutupi kekurangan dari tujuan yang diinginkan dan hasil yang telah dicapai. (Setara dengan R dari Six Sigma)
c. TQM dan langkah-langkah implementasi.
Mengacu pada Juran dan Grayna (1993) penekanan pada kepuasan pelanggan terdapat aplikasi yang luas dari aplikasi konsep kualitas, dan partisipasi dari pegawai menimbulkan istilah baru yang disebut TQM. TQM menekankan pada peningkatan mutu daya saing, efektifitas, dan fleksibilitas dari keseluruhan organisasi. Pada dasarnya metode ini merupakan cara-cara perencanaan, mengatur dan memahami tiap-tiap aktifitas. Filosofi dari TQM menurut Bates (1993) adalah mengenali apa yang menyebabkan kepuasan konsumen; tujuan-tujuan bisnis, keamanan dan pertimbangan lingkungan usaha, dimana semua hal tersebut bergantung pada satu sama lain dan dapat diterapkan diberbagai organisasi.
Mengacu pada Barclay (1993), efek dari penggunaan TQM dalam organisasi yang pertama terlihat adalah perusahaan akan memastikan manajemen nya untuk mengadopsi pandangan terhadap kualitas dalam menentukan strategi yang akan digunakan.
Sepuluh hal yang dapat dijadikan panduan dalam implementasi TQM adalah :
(1). Organisasi harus memiliki komitmen jangka panjang untuk mendapatkan pengembangan secara konstan. (Dean dan Evans, 1994).
(2). Mengadopsi pandangan “zero defects/error” untuk mengubah kultur “right first time”.
(3). Melatih orang-orang dalam organisasi untuk memahami hubungan pelanggan dan supplier.
(4). Jangan membeli barang atau jasa pada harganya saja, tapi lihat pada biaya keseluruhan.
(5). Memahami bahwa pengembangan dari system harus terus dirawat.
(6). Mengadopsi metode pengawasan modern untuk menghilangkan rasa cemas.
(7). Menghilangkan batasan antar department dengan melakukan pengaturan proses. Dan mengembangkan komunikasi dan kerja-sama tim.
(8). Menghilangkan hal-hal sebagai berikut :
- Target yang tergantung pada situasi dengan metode yang tidak jelas.
- Semua standar yang berbasiskan pada angka-angka.
- Batasan yang timbul akibat kebanggaan akan kemampuan kerja individu.
- Perkiraan-perkiraan. (Yang harus dilakukan adalah menyelesaikan permasalahan dengan tool solusi yang tepat berdasarkan kondisi nyata)
(9). Secara konstan melakukan edukasi dan pelatihan, untuk menghasilkan para ahli dalam bisnis yang sedang dijalankan.
(10). Mengembangkan pendekatan secara sistematis untuk melakukan pengaturan terhadap implementasi TQM.



Balridge framework and TQM assessment
Balridge framework (Figure 1) dikelola oleh NIST dan Instituted By Federal Government memiliki empat elemen dasar, yaitu : Driver, System, Measures of Progress, dan Goal. Executive pemimpin perusahaan adalah Driver yang menciptakan nilai, goals dan system, dan panduan untuk mencapai kualitas yang diinginkan dan performa tujuan.






EFQM framework and TQM assestment
EFQM (Figure 2) mengenali bahwa proses-proses ditujukan oleh perusahaan yang memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan dari orang-orang didalam nya untuk melakukan proses produksi. Dan juga mengacu pada Greising (1994), kepuasan pelanggan, kepuasan pekerja, dan pengaruh dari masyarakat dicapai dengan kemampuan kepemimpinan dan kecakapan dalam membuat kebijakan dan menggunakan strategi, kemampuan manajerial personalia, penggunaan sumber daya dan aplikasi proses-proses yang mengarahkan kepada hasil bisnis yang baik dan diinginkan.
SE and Six Sigma
Dorian Shainin menyimpulkan secara garis besar framework dan peralatan yang berkaitan, telah terjadi perubahan semenjak lahirnya framework dan peralatan tersebut. Dan karena framework yang ada tidak didiskusikan secara umum kepada professional secara menyeluruh dengan alasan hak cipta, semakin menyeret kepada timbulnya kontroversi. Namun perusahan-perusahan korporat, termasuk mereka yang bergerk dalam industry semikonduktor seperti Motorola, mendapatkan keuntungan dari penggunaan metode ini. Pemenang dari MBNQA yang pertama diberikan kesempatan oleh Motorola untuk menggunakan atribut-atribut SE.
SE tersusun secara terstruktur dan memiliki pendekatan sistematis. Sasaran nya adalah menemukan dan menghilangkan penyebab terjadinya variasi-variasi yang mengurangi performa kualitas seperti para pendahulunya. Proses dibedakan secara karakteristik nya, dan pengukuran sistem ditekankan selama fase implementasi, framework ini menggunakan teknik pencarian yang terus berkembang (progressive) dengan menggunakan teknik pengenalan masalah dari kumpulan variasi. Petunjuk dihasilkan dengan menggunakan data pengamatan. Data hasil proses dan pengetahuan untuk mengembangkan mempengaruhi dari informasi yang disediakan.

Langkah-langkah SE adalah :
(1). Definisikan masalah
(2). Menghitung dan mengukur permasalahan.
(3). Menentukan track record masalah.
(4). Menghasilkan petunjuk.
(5). Melakukan desain awal dari eksperimen (memverifikasi penyebab)
(6). Mencoba untuk menguji system dengan adanya masalah tersebut ataupun tidak.
(7). Menentukan spesifikasi dan batas toleransi yang realistis.
(8). Membekukan proses improvisasi/pengembangan.
(9). Melakukan sertifikasi proses.
(10). Menahan apa yang sudah didapatkan dengan melakukan proses control secara statistic.

Jika kita melihat sepuluh langkah diatas, kita dapat memahami bahwa step 1 berhubungan dengan D dari framework Six Sigma. Step 2, 3, dan 4 berhubungan dengan fase pengukuran (Measurement) dari Six Sigma, langkah 5, 6, 7 serupa dengan fase Analyze; 8, 9, berkaitan dengan Improve, dan 9, 10 serupa dengan fase Control dan Reporting di Six Sigma. Namun dari semua kesamaan itu SE memiliki perbedaan dari Six Sigma sebagai berikut :
- Metodologi nya memiliki langkah-langkah yang lebih kecil
- Ukuran tim lebih kecil untuk pemecahan masalah.
- Aplikasi Design Of Experiments (DOE) yang lebih sedikit.
- Penggunaan yang semestinya (Service Marks)
- Baik SE maupun Six Sigma menganjurkan peralatan yang kurang lebih hampir sama dalam aplikasinya.



3.4PPM and Six Sigma
Deviasi proses diasumsikan untuk terjadi kira-kira dalam ±1.5s dari rata-rata proses. (jika tidak maka 2PPB akan menjadi tidak cocok dengan table standar normal). Terdapat ketidakpastian dalam penentuan toleransi nilai dari deviasi proses, yang digunakan untuk mengkalkulasi ketidak-cocokan pada 3.4PPM. Apakah benar bila dapat dikatakan dalam ±1.5s dari rata-rata proses menganggap bahwa untuk semua proses bisnis dapat mencapai hanya 3.4 hasil yang berpeluang cacat dari per satu juta kejadian (DPMO)?
Dan telah terjadi berbagai perdebatan mengapa yang digunakan adalah distribusi normal. Telah dilakukan beberapa usaha percobaan untuk mengasumsikan distribusi data ang berbeda dan untuk menemukan apa saja yang menimbulkan ketidak-cocokan dalam kasus situasi yang dihadapi oleh Six Sigma (Ramberg, 1994, 2000). Namun bagaimanapun juga hasil dari penelitian masih terbatas dalam relevansi terhadap aplikasi dan membutuhkan aplikasi yang lebih jauh lagi untuk dimasa mendatang.
Selanjutnya apakah yang membuat para pionir dari industri memandang Six Sigma sebagai framework pilihan? Sebuah kesimpulan dari Six Sigma sehubungan dengan TQM, SE dan Deming Cycle disajikan dibawah ini untuk dapat dijadikan panduan bagi industry sebelum memutuskan merilis program peningkatan kualitas. Dapatkah dikatakan bahwa industri yang sebaya telah terkena wabah over dosis dari penyakit/sick (six) sigma? Industri seperti GE, Raytheon, dan Motorola mengklaim telah menghemat jutaan dollar dengan implementasi Six Sigma. Apakah mereka telah memikirkan untuk menggunakan implementasi dari rencana pengembangan bertahap dengan budget rendah untuk set permasalahan yang sama seperti Kaizen? Berapa banyak perusahaan raksasa yang pernah memikirkan untuk menggunakan metode Baldrige Award sebagai metode peningkatan kualitas (Juran, Godfrey, 1998)? Sig Sigma lebih sensitif dalam mengamati variasi prosses yang terjadi (dan merupakan elemen yang positif), namun tetap saja merupakan proses control dengan statistic yang dibalut dengan tampilan baru.
Sekarang mari kita meninjau sejenak pada protagonist Six Sigma. Lockheed Martin melakukan percobaan pada Six Sigma di awal 1990an. Namun hal ini ternyata memicu terbentuknya lulusan-lulusan yang disebut dengan “Program Managers,” ketimbang penggunaan istilah Black Belts untuk menghindari candaan skeptis. John Akers menjanjikan untuk menjadikan IBM mengadopsi Six Sigma, namun usaha itu segera dibatalkan saat John Akers dikeluarkan dari jabatannya sebagai CEO pada tahun 1993.
V. Hal Baru Yang Diperoleh
Berbagai macam metodologi peningkatan kualitas yang bervariasi telah dibahas secara ringkas. Six Sigma sebagai metode yang dipercaya oleh korporat telah diperdebatkan secara langsung dengan metode-metode tradisional. Pesan yang ingin disampaikan adalah untuk menyebarkan dan mengadopsi rencana peningkatan kualitas yang dapat mengarahkan kepada efektifitas dan produktifitas proses, dan bukan berfokus pada label yang tertempel pada rencana yang akan digunakan. Para pemimpin korporat harus berpikir ulang apakah metode Six Sigma sebagai pemprakarsa pengembangan kualitas dapat sedikit berbicara dan berbuat lebih banyak dibandingkan dengan metode perencanaan peningkatan kualitas yang sudah ada.
VI. Peluang Penelitian
1. Membuat metode benchmarking untuk mengukur kinerja perencanaan dengan standar yang cukup baku untuk menilai mana yang lebih baik dari masing-masing metode perencanaan peningkatan kualitas.
2. Membuat metode perencanaan pengembangan kualitas yang lebih baik dari yang sudah ada.
As have been mentioned above the summary is created in Indonesian Language, but the paper say that Six Sigma is not only the way to create and maintain quality control aspect in operation activities.
I hope this article will help you to learn something about Six Sigma.......

0 comments: